Connect with us

Ambon

Lautan Dalam Kepala

LAUTAN DALAM KEPALA

Judul Buku             : Laut Dalam

Penulis                      : Jiku Sore

Penerbit                   : Ruang Gulma X Pustaka Satu

Terbit                         : 2019

Tebal                          : 136 halaman

“Laut Dalam adalah meja makan bagi pembaca. Rupa-rupa menu dihidangkan.”

Jiku Sore, lahir di Ambon, 11 Mei 1993. Pendiri Komunitas Literasi di Kota Ambon: “Lapak Baca Arus Balik”. Buku Laut Dalam adalah karya perdananya, ditulis sejak tahun 2016-2018. Sebelumnya, ia memulai menulis puisi-puisinya di media sosial.

Buku bersampul paduan empat warna (Hijau, hitam, kuning, cokelat,) ini memuat 113 puisi yang dibagi atas tiga babak, yaitu: Badai, Gelombang, dan Pulang. Di babak pertama—Badai, sebelum masuk dalam puisi-puisinya, Jiku Sore membuat pembaca bergidik dengan sebuah paragraf pembuka: “Untuk semua luka yang menguatkan. Aku menulis untuk mengenang”. Sebuah kalimat ini menggambarkan bagaimana Badai yang membawa luka menjadi sumber yang menguatkan dan menulis adalah sebuah ritual mengenang masa lalu. Badai yang menghantam tidak hanya pikiran tetapi jauh ke dalam jiwanya. Seperti dalam puisi “Kesendirian”:

Sebaiknya kau tahu

bagaimana memenggal waktu

menjadi tubuh-tubuh tanpa kepala

di lokalisasi atau tempat pemungutan suara

perihal paling remeh di dunia adalah perasaan

namun menghamburkan segala isi kepalamu di meja judi

adalah kecerobohan terindah.

Sepanjang usia ingatan

jangan pernah sesali apapun

juga kekalahan, apalagi kehilangan

dia akan menjadi duri-duri di tubuhmu

yang tak tersentuh.

Semisal masalah apapun

dalam bentuknya yang paling krusial

kau akan mengerti

kesendirian adalah puncak usaha manusia memahami

bahwa kepercayaan harus dibayar mahal

dengan menghadirkan kesendirian lainnya.

Di babak kedua—Gelombang, membuat kita terempas dalam pelbagai persoalan manusia. Diantaranya “politik” yang ditemukan dalam sebuah judul Berita Koran:

Di suatu rumah kopi seorang anak kecil

datang padaku membawa koran dagangannya

“Kak koran?” Dengan layu memandangiku

“Ada berita apa hari ini?”

“Janji-janji politisi memenuhi wajah kota,” jawabnya singkat.

Setelah mengambil satu koran aku bergumam padanya

“Bisakah kau berjanji padaku?”

Dia mengangguk,

“Bisakah kau berjanji untuk tidak berjanji?”

Dia kembali mengangguk, kali ini lebih dalam

Sembari pergi ke meja lain.

Jiku Sore dengan diksi-diksinya yang sederhana memudahkan penulis memahami perkara yang ia maksud, yakni, kecenderungan sifat buruk politisi yang hanya berjanji dan berjanji. Tidak memberi bukti. Selain itu, babak ini juga menjajal perihal agama, dan  kemiskinan yang berlarat-larat di kota ini.

Kemudian, di babak terakhir—Pulang. Setelah dihantam badai dan gelombang yang membuatnya penuh luka, dan amarah yang membuncah oleh kepelikkan hidup. Ia menyadari sebaik-baiknya perjalanan adalah kembali pulang.

Akhirnya Aku Menemukan Alasan Pulang

Setelah tragedi fatal yang membentur kepala

dan memakan setengah usiaku, untuk beberapa alasan aku memberanikan diri

menjamah kemungkinan-kemungkinan baru

mendatangi tanah yang dulu begitu asing

membangun bangunan-bangunan yang mungkin kelak menjadi rumah peristirahatanku.

Namun kemungkinan tetaplah kemungkinan

tetap memiliki warna kelabu

pengharapan adalah bunuh diri terbaik.

Untuk alasan inilah aku harus pulang

kembali dari tanah yang dulu pernah menjadi mungkin,

merobohkan bangunan-bangunan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri

dan melupakan semua ingatan perihal rumah.

Kini aku harus pulang, pada diriku sendiri

dan belajar memahami kesalahan diri

masalah terbesar dalam menyayangi adalah lupa kapan harus berhenti, sebab

sudah terlanjur jatuh pada pikiran sendiri

pikiran yang kadang membohongi diri

lalu menyalahkan orang lain atas sekelumit

ketidak-sesuaian antara harapan dan kenyataan.

Maka pada akhirnya aku mencoba menemukan

alasan pulang, setelah sekian waktu

mencoba kemungkinan-kemungkinan.

Sebagai penulis yang lahir di masa modern, Jiku Sore sangat piawai mengemas kritikan-kritikan pedas dalam sebuah puisi yang berbingkai sepasang kekasih.

Syahdan, saya merasa buku Laut Dalam mempunyai kekuatannya sendiri— menarik pembaca untuk jatuh lebih dalam, lebih dalam, hingga benar-benar tenggelam di lautan dalam kepala penulis. (*)

— Masohi, 29 Juni 2020

Oliena Ibrahim, Kini bergiat di Komunitas Rumah Pustaka dan anggota LPM Lintas, IAIN Ambon.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gempa terkini di Indonesia

More in Ambon