Connect with us

Kec. Leihitu

Gubernur Maluku Minta Para Walkot dan Bupati Lestarikan Rumah Adat

Laporan : Ekspresi
AMBON,EKSPRESIMALUKU.com –  Gubernur Maluku, Said Assagaff  minta  para Bupati dan Walikota yang daerahnya terdapat rumah pusaka, untuk melestarikan dan mengaktifkan kembali rumah-rumah pusaka yang ada .
Hal ini disampaikan Assagaff  saat disinggung tentang rumah adat beberapa kawasan di Maluku, yang terkesan terabaikan atau tidak difungsikan sebagaimana mestinya.
Gubernur  merasa bangga dan terharu bisa ikut dalam prosesi renovasi rumah pusaka  Lating Nustapy di  Negeri Hila Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah yang berusia 342 tahun, Minggu (16/4/2917).

Rumah adat ini, rumah tau, rumah pusaka, menurut Assagaff, adalah tempat musyawarah yang ada di negeri ini. Mau musyawarah apa saja, semua orang akan masuk dan tunduk di rumah pusaka ini

“Tadi kita lihat, banyak sekali warga Negeri Hila yang kesurupan (trance). Ini artinya begitu kuatnya adat di negeri ini, saya terharu dengan situasi itu. Karena itu kita harus terus menjaga adat yang sudah dilakukan tete nene moyang (leluhur) kita,” ujar Assagaff.

Pemasangan atap pamali rumah pusaka ini diharapkan gubernur  dapat tingkatkan persaudaraan antar warga, baik di dalam negeri (desa) maupun dengan negeri–negeri tetangga, sehingga kedamaian terus tercipta di Maluku.

Assagaff  meminta prosesi adat untuk renovasi setiap rumah adat di Maluku, dan harus bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Kegiatan–kegiatan adat tidak sekedar seremonial belaka, tapi prosesi ini nilai sejarahnya sangat tinggi dan dapat mempromosikan potensi adat di Maluku sehingga meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah ini,” Tandasnya.

Kata Gubernur, penting diaktifkan kembali, karena nilai-nilai sejarahnya mahal. Lihat saja, para pelancong dari Amerika atau Eropa malah sekarang beralih ke ‘Timur’. Mereka datang untuk melihat peninggalan-peninggalan sejarah di ‘Timur’.

“Ini kesempatan kita untuk merawat kekayan yang kita miliki. Dengan semboyan Kembali ke Alam, orang-orang dari Amerika dan Eropa itu akan datang ke sini. Karena alamnya masih natural,” ujarnya.

Empat Kesultanan dari Maluku Utara, yakni Sultan Tidore ke-37, Husain Alting Syah, Pengeran Sultan Ternate , serta Perwakilan Sultan Jailolo dan Bacan, ikut bersama Gubernur Maluku, Said Assagaff, pada prosesi pemasangan atap pamali Rumah Pusaka Lating Nustapy, Negeri Hila Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Keempat kesultanan tersebut, memang memiliki hubungan adat dengan negeri Hila sejak dahulu.

 Pada prosesi tersebut, Gubernur Assagaff, secara simbolisi bersama Sultan Tidore dan perwakilan Kesultanan Ternate, Jailolo dan Bacan naik di bagian atas Rumah Pusaka untuk memasang atap, kemudian dilanjutkan pemasangan oleh warga lainnya.

 Terlihat ribuan warga Negeri Hila ikut dalam prosesi adat ini, dengan membawa berbagai tarian adat di negeri itu. Hadir juga warga negeri tetangga lainnya di Jazirah Leihitu.

“Pada peresmiannya nanti, saya minta jauh-jauh hari sudah harus dipersiapkan, dan dikemas menjadi even pariwisata oleh Dinas Pariwisata. Supaya kita bisa mengundang orang untuk datang. Untuk melihat sejarah yang memang sudah langka,” Paparnya.Prosesi adat pemasangan ate poput atau atap pamali ini, merupakan bagian dari renovasi Rumah Pusaka Lating Nustapy yang dibangun sejak Abad 14 masehi dan menjadi pusat pemerintahan dan siar Islam di Pulau Ambon kala itu.

“Sejak dibangun, rumah pusaka ini baru dua kali direnovasi. Pada renovasi kali kedua ini, Rumah Pusaka Lating Nustapy berusia 342 tahun, karena itu kami merenovasi dengan tetap mempertahankan konstruksi seperti saat pertama dibangun,” ujar Ketua Panitia Renovasi Mohammad Assagaff.

Advertisement

Gempa terkini di Indonesia

More in Kec. Leihitu