Enrique de Molucca dan Epos Pattimura

Puisi-puisi Ishak R. Boufakar:

 

Enrique de Molucca

Mungkin kau tak mengerti bahwa keberkahan

adalah wajah lain dari penderitaan. Tetapi, seorang

barangkali sedia menerangkan sebuah perkara,

kilau emas bisa mengubah nurani menjadi bejat

 

:kekuasaan bisa mengubah seorang menjadi tirani

amsal bagai Ibu kehilangan lengan dan Bapak kehilangan

tanggung jawab, mereka adalah para narapidana

tindak kriminal.

 

Tetapi, kau bukan pejabat bukan pula Ibu atau Bapak.

Kau hanyalah seorang pelaut yang dadanya mekar bunga-bunga api

meletup-letup seribu nyali dan langit jadi riuh ketika kau berjalan

di atas seribu ombak dengan seribu warna luka dari Lisbon

menuju Maluku.

 

Siapa dia, tanya raja Charles, Columbus atau Vasco da Gama?

Tidak! Dialah Enrique de Molucca, juru kunci tanah rempah,

jawab Magellan.

 

Mungkin kau mengerti bahwa satu perkara buruk yang dianyam

sedemikian rapi, dapat mengalahkan seribu perkara baik, tanpa siasat.

Serupa itujuga, seorang yang karib mengenali wajah laut: dicintainya

musim dan cuaca. Maka, baginya lebih mudah menggali telaga di dasar laut,

tanpa merasa sedang melukai pasir atau batu karang.

 

Siapa dia, tanya Paus di Vatikan, Magellan atau De Elcano?

Tidak! Dialah Enrique de Molucca, navigator piawai yang telah mengkhatam

putaran 360 derajat, jawab Pigafetta.

 

:kulitnya legam biji pala, rambut ikal bunga cengkih, dan gigi putih tepung sagu.

Serta aroma tubuhnya bunga karang bernapas doa nelayan sampan yang merihat ombak, memadamkan matahari. Maka padanya mahir menakar lintang,

menggarami badai, dan melipat jarak. Tanpa dirinya tiada perahu Portugis

dan Spanyol karam di Maluku.

 

Mungkin kau mengerti bahwa penyesalan selalu kibar di ujung perkara.

Maka tiba pada suatu batas, kau kalut meskipun dalam sembahyang.

Karena pelaut pelaut itu telah tinggalkan seribu pandan duri di selangkangan

seribu gadis. Maka darisanalah lahir berlusin-lusin mestis.

 

2019

 

Epos Pattimura

 

Bertahun-tahun matahari terbenam di dalam saku seorang Residen

yang semena-mena menoreh luka menganga, seluas langit.

Van den Berg, hatinya batu, tiada guna sekeping airmata.

 

Hingga tiba suatu hari, datang seorang Lelaki berkilat-kilat,

sekekar pohon sagu. Lelaki itu membawa duri daun rumbia

menjahit luka-luka. Mengusap airmata.

 

I

 

15 Mei 1817

Di dermaga Porto

di antara buritan dan tiang layar

aku melihat jilat api menjalar

dari bola mata seorang Kapitan

seketika itu dermaga menjelma bara.

 

Inilah perang paling api

Inilah laga paling lahar

 

Dan kini penderitaan adalah arang

berkeping-keping di jalan-jalan.

Menyelinap dalam selimut, membangunkan

orang-orang yang terlelap menakar siasat,

meracik seratus suluh perlawanan.

 

Inilah jalan cahaya

Inilah padang oase: di sana tumbuh

atau gugur bunga bangsa.

 

Di dermaga Porto

antara buritan dan tiang layar

aku melihat seorang suluk

menyulut unggun. Terang-

benderang.

 

II

 

Bulan Juli- November 1817

 

Di benteng Duurstede

di antara batu berlumut dan bedil setegak pohon

aku melihat sepasang kekasih berpelukan,

tubuh mereka pucat rembulan, dicekik maut.

 

Kenapa kau menangis? Maut tidak boleh ditangisi.

Memang begitu adanya, ia datang tanpa mengetuk-

ngetuk pintu. Kita harus siap. Tidak ada kompromi.

 

Sesudah ini kau harus percaya, bahwa perundingan

hanyalah tipu muslihat, kata-kata omong-kosong

serupa konsensus. Dan tidak selalu ditepati,

kata si Lelaki.

 

Di benteng Duurstede

di antara batu seluas peti dan bedil setegak kamboja

aku melihat si Gadis memeluk kesedihan. Tubuhnya

debu, hanya debu.

 

III

16 Desember 1817

 

Di benteng Victoria

di antara amis darah dan asin airmata

aku melihat Isa di bola mata seorang Kapitan

yang tercekik di tiang pancung.

 

Wahai, Pattimura muda jagalah hidup dengan

darah, sekalipun berdarah-darah, kata Kapitan itu

untuk terakhir kalinya.

 

Di benteng Victoria

di antara amis darah dan asin

airmata, aku melihat satu kematian

inang bagi seribu kelahiran.

 

 

 

V

15 Mei 2019

 

Di kota ini

orang-orang begitu riuh,

saling menerkam

merebut tulang-belulang

yang kini debu.

 

Kau milik siapa?

Kau milik siapa?

Seribu kali lagi

Kau milik siapa?

 

Di kota ini

pertanyaan-pertanyaan menyusun dirinya

sendiri menjadi bilik penjara dan aku adalah

seorang narapidana. Terjebak di sana.

 

:aku benar-benar kacau dan patah.

Tetapi, sebuah Puisi lawas dari Chairil Anwar,

menyelamatkanku.

 

“Kami cuma tulang-tulang berserakan…

…Jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan atau tidak untuk

apa-apa.”

 

Di kota ini

orang-orang mempertanyakan segala

yang dicatat waktu. Tidak dengan dirinya.

 

2019

 

Catatan:

  1. Tentang penyair: Lelaki Laut adalah nama pena dari Ishak R. Boufakar. Lahir di Kian. 23 Juli 1992. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar. Puisi-puisi di atas pernah diterbitkan dalam Majalah Edisi Perdana Lintas.
  2. Ilustrasi dari: Rahmatmarsaoly.wordpress.com

 

Related Posts

Partisipasi Gen – Z dalam pengawasan Pilkada Serentak 2024

AMBON-EKSPRESIMALUKU.com_Tahapan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Provinsi Maluku, yang dimana kita akan perhadapkan bersama yaitu pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur, Bupati/ Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Wali Kota. Ardi S…

Pertemuan Sejenak

Langit malam yang dipenuhi bintang-bintang itu perlahan ditutupi awan putih dengan rintikan air yang turun perlahan membasahi dahi gadis yang sedang berjalan. Ia berlari menuju halte untuk menghindari hujan. Lima…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya

KPU SBB Gelar Peluncuran Tahapan pilkda Serentak 2024

  • By Memet
  • Juni 12, 2024
  • 26 views
KPU SBB Gelar Peluncuran Tahapan pilkda Serentak 2024

Pj Bupati SBB Buka KICK OFF Intervensi Serentak Penurunan Stunting

  • By Memet
  • Juni 12, 2024
  • 28 views
Pj Bupati SBB Buka KICK OFF Intervensi Serentak Penurunan Stunting

Jelang Pilkada Serentak: KPU Gelar Peluncuran Tahapan Pemilu 2024

  • By Memet
  • Juni 9, 2024
  • 19 views
Jelang Pilkada Serentak: KPU Gelar Peluncuran Tahapan Pemilu 2024

MI-BMW Resmi Miliki Rekomedasi PAN Menuju Pilgum Maluku

  • By Memet
  • Juni 7, 2024
  • 22 views
MI-BMW Resmi Miliki Rekomedasi PAN Menuju Pilgum Maluku

Gangguan Kamtibmas di Maluku Periode Januari-Mei Turun 5 Persen

Gangguan Kamtibmas di Maluku Periode Januari-Mei Turun 5 Persen

Pastikan Stok Bapok Aman, Pemda Bursel dan Polres Sidak Pasar

Pastikan Stok Bapok Aman, Pemda Bursel dan Polres Sidak Pasar

Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1445 H Jatuh pada 17 Juni 2024 Sesuai Sidang Isbat

  • By Memet
  • Juni 7, 2024
  • 25 views
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1445 H Jatuh pada 17 Juni 2024 Sesuai Sidang Isbat

Israel Serang Sekolah Milik PBB, 40 Warga Tewas

Israel Serang Sekolah Milik PBB, 40 Warga Tewas

Puncak Ibadah Haji 2024, Jadwal dan Aturannya

Puncak Ibadah Haji 2024, Jadwal dan Aturannya

Peduli Lingkungan, Koramil 1502-04/Geser Laksanakan Jumat Bersih

Peduli Lingkungan, Koramil 1502-04/Geser Laksanakan Jumat Bersih

Pj Bupati SBB; Jaiz Elly Kunjungi Kecamatan Epaputih

  • By Memet
  • Juni 7, 2024
  • 33 views
Pj Bupati SBB; Jaiz Elly Kunjungi Kecamatan Epaputih

Kunjungi Elpaputih; Ketua TP PKK SBB Beri Bantuan

  • By Memet
  • Juni 7, 2024
  • 25 views
Kunjungi Elpaputih; Ketua TP PKK SBB Beri Bantuan

Pj Bupati A. Jaiz Ely, Melantik 313 Pegawai P3K 2024

  • By Memet
  • Juni 7, 2024
  • 30 views
Pj Bupati A. Jaiz Ely, Melantik 313 Pegawai P3K 2024