Connect with us

Ambon

Apit, Bocah Si Loper Koran Bertaruh Waktu Untuk Keluarga

AMBON, EKSPRESIMALUKU.com – Bagi sebagian anak, sepulang sekolah dapat belajar dan bermain bersama teman – temannya. Lain halnya dengan Apit, salah satu siswa SD di Kota Ambon. Keluarganya yang miskin, terpaksa membuat bocah ini ikut berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Menjadi loper Koran, adalah pilihan si bocah untuk meraup rupiah ditengah deru mobil dan asap kenderaan bermotor. Jika pagi tiba, Apit, menenteng tasnya menuju sekolah. Bel sekolah berbunyi, si bocah berganti pakaian dan mendagangkan koran. Dengan gesit, setumpuk Koran cetak lokal dipeluknya. Sambil berlari kecil, Apit menawarkan Koran ke setiap warga yang lewat di hadapannya. Bukan hanya di jalanan, bocah kurus ini, juga menawarkan korannya ke warung makan, rumah kopi. Pokoknya semua kawasan sibuk di jantung kota Ambon, disinggahi si bocah. Dari Jl. Ay Patty, Jl. A.M. Sangadji, Kawasan Trikora hingga Jl. Sultan Babullah.

Saat lapar dan haus menghampiri, Apit tak ambil pusing. Dengan lincah, bocah kurus ini terus menawarkan Koran. “Pa, beli Koran?”, Bu, beli Koran?”, hanya kalimat ini yang selalu terucap di bibir mungil si bocah hingga laris terjual.

Jika lelah menghampiri, bocah kecil ini memilih duduk di emperan toko. Sejenak melepas lelah. Terkadang sambil menghitung jumlah uang dari koran yang terjual.

Saat ditemui wartawan EKSPRESIMALUKU.com, di kawasan A.Y. Patty, Si kecil Apit mengakui bahwa pekerjaan yang dilakoninya untuk membantu ekonomi keluarganya. Ibunya mengais rejeki sebagai tukang cuci pakaian. Sementara sang ayah harus mengejar dan berebut barang sebagai Buruh di Pelabuhan Yos Sudarso. Bocah Apit juga memiliki seorang kakak. Saat ini menjalani studi di salah satu perguruan tinggi di Kota Ambon.

Menurut penuturan Apit, hasil daganganya dibagi dua dengan agen tempat dia mengambil koran. Jika habis terjual, Apit dapat meraih untung hingga Rp.50.000 namun jika dagangannya masih tersisa, Rp.20.000 sudah cukup dibawa pulang oleh siswa kelas 3 SD ini.

Dari keuntungan yang diperoleh, sebagian diberikan kepada ibunya. Sisanya ditabung untuk masa depan si bocah.

Dari usia, si bocah Apit dan beberapa teman sebayanya tak bebas menikmati masanya yang penuh kasih sayang, namun pilihan ikut mencari nafkah agar  memenuhi tuntutan kehidupan  terpaksa menjadi loper Koran.

Momentum HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional), 2 Mei 2015, Apit sama seperti siswa siswi di sekolah pada umumnya. Memberikan bunga kepada Ibu dan Bapak Guru usai pelaksanaan upacara. Bedanya Apit, bunga yang diberikan buat Ibu dan Bapak Gurunya, didapat dari hasil jerih payahnya sendiri sebagai bocah loper koran. (EM – Fatah).

Advertisement

Gempa terkini di Indonesia

More in Ambon